Jurusan -Manajemen
Sumber: disini
Selasa, 01 September 2015
Daerah Saya LUMAJANG
LMJ-Lumajang
SEJARAH
SINGKAT KOTA LUMAJANG
Bumi LUMAJANG sejak jaman Nirleka dikenal sebagai daerah yang "PANJANG-PUNJUNG PASIR WUKIR GEMAH RIPAH LOH JINAWI TATA TENTREM KERTA RAHARJA".
PANJANG-PUNJUNG berarti memiliki sejarah yang lama. Dari peninggalan-peninggalan Nirleka maupun prasasti yang banyak ditemukan di daerah Lumajang cukup membuktikan hal itu.
Beberapa prasasti yang pernah ditemukan, antara lain Prasasti Ranu Gumbolo. Dalam prasasti tersebut terbaca "LING DEVA MPU KAMESWARA TIRTAYATRA". Pokok-pokok isinya adalah bahwa Raja Kameswara dari Kediri pernah melakukan TIRTAYATRA ke dusun Tesirejo kecamatan Pasrujambe, juga pernah ditemukan prasasti yang merujuk pada masa pemerintahan Raja Kediri KERTAJAYA.
Beberapa bukti peninggalan yang ada antara lain :
PANJANG-PUNJUNG berarti memiliki sejarah yang lama. Dari peninggalan-peninggalan Nirleka maupun prasasti yang banyak ditemukan di daerah Lumajang cukup membuktikan hal itu.
Beberapa prasasti yang pernah ditemukan, antara lain Prasasti Ranu Gumbolo. Dalam prasasti tersebut terbaca "LING DEVA MPU KAMESWARA TIRTAYATRA". Pokok-pokok isinya adalah bahwa Raja Kameswara dari Kediri pernah melakukan TIRTAYATRA ke dusun Tesirejo kecamatan Pasrujambe, juga pernah ditemukan prasasti yang merujuk pada masa pemerintahan Raja Kediri KERTAJAYA.
- Prasasti Mula Malurung
- Naskah Negara Kertagama
- Kitab Pararaton
- Kidung Harsa Wijaya
- Kitab Pujangga Manik
- Serat Babat Tanah Jawi
- Serat Kanda
Dari Prasasti Mula Manurung yang ditemukan di
Kediri pada tahun 1975 dan ber-angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi)
diperoleh informasi bahwa NARARYYA KIRANA, salah satu dari anak Raja
Sminingrat (Wisnu Wardhana) dari Kerajaan Singosari, dikukuhkan sebagai
Adipati (raja kecil) di LAMAJANG(Lumajang). Pada tahun 1255 Masehi,
tahun yang merujuk pada pengangkatan NARARYYA KIRANA sebagai Adipati di
Lumajang inilah yang kemudian dijadikan sebagai sebagai dasar penetapan
Hari Jadi Lumajang (HARJALU).
Dalam Buku Pararaton dan KIDUNG HARSYA WIJAYA
disebutkan bahwa para pengikut Raden Wijaya atau Kertarajasa dalam
mendirikan Majapahit, semuanya diangkat sebagai Pejabat Tinggi Kerajaan.
Di antaranya Arya Wiraraja diangkat Maha Wiradikara dan ditempatkan di
Lumajang, dan putranya yaitu Pu Tambi atau Nambi diangkat sebagai Rakyan
Mapatih.
Pengangkatan Nambi sebagai Mapatih inilah yang
kemudian memicu terjadinya pemberontakan di Majapahit. Apalagi dengan
munculnya Mahapati(Ramapati) seorang yang cerdas, ambisius dan amat
licik. Dengan kepandaiannya berbicara, Mahapati berhasil mempengaruhi
Raja. Setelah berhasil menyingkirkan Ranggalawe, Kebo Anabrang, Lembu
Suro, dan Gajah Biru, target berikutnya adalah Nambi.
Nambi yang mengetahui akan maksud jahat itu
merasa lebih baik menyingkir dari Majapahit. Kebetulan memang ada
alasan, yaitu ayahnya(Arya Wiraraja) sedang sakit, maka Nambi minta izin
kepada Raja untuk pulang ke Lumajang. Setelah Wiraraja meninggal pada
tahun 1317 Masehi, Nambi tidak mau kembali ke Majapahit, bahkan
membangun Beteng di Pajarakan. Pada 1316, Pajarakan diserbu pasukan
Majapahit. Lumajang diduduki dan Nambi serta keluarganya dibunuh.
Pupuh 22 lontar NAGARA KERTAGAMA yang ditulis
oleh Prapanca menguraikan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke
Lumajang. Selain NAGARA KERTAGAMA, informasi tentang Lumajang diperoleh
dari Buku Babad. Dalam beberapa buku babad terdapat nama-nama penguasa
Lumajang, yaitu WANGSENGRANA, PUTUT LAWA, MENAK KUNCARA(MENAK KONCAR)
dan TUMENGGUNG KERTANEGARA. Oleh karena kemunculan tokoh-tokoh itu tidak
disukung adanya bukti-bukti yang berupa bangunan kuno, keramik kuno,
ataupun prasasti, maka nama-nama seperti MENAK KONCAR hanyalah tokoh
dongeng belaka.
Langganan:
Postingan (Atom)